Komponen Media Tanam

Untuk menghasilakn media tanam yang baik dan sesuai dengan karakter tanaman, maka kebanyakan pekebun dan hobiis meramu beberapa komponen media tanam untuk menciptakan media tanam majemuk sesuai dengan yang diinginkan. Beberapa komponen media tanam yang umum dipakai oleh saat ini adalah :

1. Cacahan Pakis

Cacahan pakis adalah batang atau akar tanaman pakis yang telah dicacah menjadi cacahan halus. Cacahan pakis yang baik digunakan adalah cacahan pakis matang yang sudah mengalami “fermentasi”. Cacahan pakis matang bersifat porous, mempunyai aerasi yang baik tetapi tetap mampu menyimpan air yang dibutuhkan tanaman dan mampu “memegang” tanaman dengan baik tanpa menimbulkan sifat padat yang berlebihan. Cacahan pakis merupakan komponen media tanam favorit pekebun dan hobiis saat ini.

Hanya saja dikarenakan pakis telah masuk ke dalam CITES appendix dimana pakis dinyatakan sebagai tanaman yang dilindungi karena terancam kepunahannya, maka semaksimal mungkin penggunaan cacahan pakis sebagai media tanam dibatasi. Akhir-akhir ini karena permintaan akan media tanam pakis semakin besar seiring dengan maraknya dunia tanaman hias di tanah air, telah mengakibatkan kerusakan hutan pakis di habitatnya secara besar-besaran. Dahulu, orang mendapatkan cacahan pakis dari tanaman pakis yang sudah mati dan membusuk. Tetapi sekarang, karena permintaan yang mengalir deras, maka banyak orang berburu pakis hidup di hutan-hutan untuk ditebang dan dicacah-cacah. Hal ini tentu makin memperparah kerusakan habitat pakis yang sudah terancam kepunahan. Diluar negeri, utamanya di Negara-negara Eropa dan Amerika, penggunaan cacahan pakis sudah dilarang sejak beberapa tahun yang lalu.

2. Sekam Bakar

Sekam bakar atau arang sekam adalah sekam / kulit padi yang dibakar dengan teknik sedemikian rupa, sehingga menghailkan sekam yang menjadi arang. Sekam bakar yang baik adalah sekam yang sudah terbakar, tetapi tidak terlalu hancur. Sifat sekam bakar yang porous dan mampu menyimpan air, hampir mirip dengan cacahan pakis. Untuk itu saat ini banyak pekebun dan hobiis yang mengalihkan penggunaan cacahan pakis menjadi sekam bakar.

Sekam bakar juga mampu “memegang” tanaman dengan baik. Relatif mudah ditemui, serta harga juga relative lebih murah. Kelemahan sekam bakar adalah, relatif lebih mudah lapuk jika dibandingkan dengan cacahan pakis.

3. Sekam Mentah

Selain sekam bakar, sekam mentah juga bisa digunakan sebagai komponen media tanam. Kelebihan sekam mentah sebagai media tanam, selain bersifat porous dan mampu menahan air, adalah kaya akan vitamin B. Keunggulan terakhir ini umumnya tidak dimiliki oleh komponen media tanam lain.

Kelemahan sekam mentah adalah sifatnya yang terlalu berongga, sehingga kurang kuat dalam “memegang” tanaman.

4. Cocopeat

Cocopeat disini adalah serbuk yang berasal dari serabut buah kelapa. Cocopeat bersifat mampu meyimpan dan menahan air . Sifat ini dibutuhkan untuk menjamin ketersediaan air bagi tanaman yang menyukai kelembaban atau media tanam yang tidak terlalu kering, seperti Aglaonema dan Anthurium.

Kekurangan cocopeat adalah banyak mengandung zat Tanin. Zat Tanin diketahui sebagai zat yang menghambat pertumbuhan tanaman. Untuk menghilangkan zat Tanin yang berlebihan, maka bisa dilakukan dengan cara merendam cocopeat di dalam air bersih selama beberapa jam, lalu diaduk sampai air berbusa putih. Selanjutnya buang air dan diganti dengan air bersih yang baru. Demikian dilakukan beberapa kali sampai busa tidak keluar lagi.

5. Cocochip

Hampir sama dengan cocopeat, cocochip berasal dari serabut buah kelapa. Hanya saja kalau cocopeat berbentuk serbuk, maka cocochip berbentuk potongan-potongan yang lebih besar berbentuk dadu. Cocochip umumnya berukuran ½ – 1 Cm. Kelebihan dan kekurangan cocochip sama dengan cocopeat.

Di Indonesia penggunaan cocochip memang tidak terlalu popular. Cocochip umumnya digunakan sebagai “pengganjal” dasar pot untuk menciptakan drainase yang baik di dalam pot.

6. Pasir Malang

Pasir malang adalah pasir yang berasal dari lava gunung berapi. Sifat pasir malang yang memiliki rongga-rongga halus membuat pasir malang menjadi ringan dan sangat porous. Pasir malang juga mampu “memegang” tanaman dengan baik, sehingga menjadi pilihan utama bagi pekebun dan hobiis tanaman yang menyukai iklim dan media tanam kering seperti Adenium, Euphorbia dan Sansevieria.

Pasir malang yang paling baik, umumnya yang bertekstur halus dan seragam. Untuk itu sebelum digunakan, pasir malang sebaiknya disaring menggunakan saringan kawat untuk mendapatkan pasir malang yang seragam.

Sebaiknya hindari penggunaan pasir malang yang berukuran besar dan bertekstur sangat kasar. Selain relatif lebih sulit untuk mengaturnya didalam pot, pasir malang kasar juga beresiko melukai akar dan batang tanaman, sehingga bisa menyebabkan kebusukan. Disamping itu pasir malang yang besar dan kasar juga kurang indah dipandang mata. Kelemahan lain dari penggunaan pasir malang adalah sangat miskin unsur hara, sehingga pemupukan teratur menjadi suatu keharusan, untuk mencegah tanaman kekurangan unsur hara.

7. Pupuk Kandang

Pupuk kandang yang baik digunakan adalah pupuk kandang matang yang telah terfermentasi dengan baik. Tandanya warna cenderung kehitaman, dan teksturnya lebih remah dibanding pupuk kandang mentah. Penggunaan pupuk kandang yang masih mentah akan berakibat buruk pada tanaman.

Pupuk kandang yang banyak digunakan umumnya adalah pupuk kandang kambing, karena disamping mengandung unsur Nitrogen yang cukup, karena bentuknya yang berupa butiran, membuat pupuk kandang kambing lebih awet dan tidak mudah hancur apabila terkena siraman air.

Kelebihan penggunaan pupuk kandang sebagai komponen media tanam adalah menjamin ketersediaan unsur hara bagi tanaman, walaupun tanpa tambahan pupuk kimia. Sedangkan kekurangan pupuk kandang adalah, apabila tidak disterilisasi dengan baik, maka pupuk kandang cenderung mengandung bibit penyakit dan hama bagi tanaman. Selain itu penggunaan pupuk kandang secara berlebihan sering membuat tampilan keseluruhan tanaman dan pot menjadi kurang indah, apalagi kalau tanaman ditempatkan didalam ruangan (indoor).

8. Humus

Humus yang banyak digunakan umumnya adalah humus kaliandra dan humus daun bamboo. Humus kaliandra banyak mengandung nitrogen, sehingga sangat baik untuk digunakan. Beberapa pekebun menggunakan humus sebagai pengganti pupuk kandang.

Kelebihan humus adalah, banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman serta bersifat banyak mengikat air, sehingga sangat cocok digunakan untuk tanaman yang memerlukan kelembaban tinggi seperti Caladium. Kelemahan humus kaliandra / bambo adalah sifatnya yang mudah lapuk dan hancur, membuatnya harus lebih sering diganti.

9. Tanah (Merah)

Tanah yang dimaksud disini adalah tanah merah yang bertekstur cukup remah. Bukan tanah liat berwarna hitam atau coklat yang lengket. Tanah merah umumnya banyak digunakan oleh pekebun Puring. Beberapa pekebun dan hobiis sansevieria juga menggunakan tanah merah sebagai campuran media tanamnya. Bahkan dari sebuah milis, beberapa member telah berhasil mengaplikasikan tanah merah sebagai komponen media tanam aglaonema. Namun demikain, umumnya jarang sekali pekebun atau hobiis yang merekomendasikan penggunaan tanah merah dalam jumlah mayoritas.

10. Arang kayu

Arang kayu banyak digunakan sebagai media tanam anggrek, sebagai pengganti lembaran batang pakis. Arang umumnya digunakan dalam bentuk potongan-potongan besar untuk tanaman anggrek remaja dan dewasa.

Kelebihan penggunaan arang adalah, sebagai substitusi batang pakis, Tahan lama, tidak mudah ditumbuhi jamur dan bakteri, serta mampu menyerap racun yang mengganggu tanaman. Kekurangannya adalah, sulit menyimpan air dan miskin hara. Arang sangat cocok digunakan didaerah yang berkelembaban tinggi, sehingga dapat mencegah kelembaban yang berlebihan. Apabila digunakan didaerah berkelembaban rendah, membuat media menjadi lebih cepat kering dan membutuhkan penyiraman yang lebih sering.

Sebenarnya arang juga bisa digunakan sebagai media tanam tanaman selain anggrek, hanya saja ukurannya perlu diseuaikan. Selain itu, arang juga bisa digunakan sebagai “pengganjal” dasar pot untuk meningkatkan drainase dan aerasi.

11. Kerikil

Kerikil disini adalah kerikil biasa yang bisa kita jumpai di halaman rumah, sungai dan pinggir-pinggir jalan. Kerikil kebanyakan digunakan sebagai media hydroponik, sebagai “pemegang” akar tanaman. Kerikil juga banyak digunakan sebagai “pengganjal” dasar pot untuk meningkatkan drainase dan aerasi.

12. Hydro Gel

Disamping beberapa komponen media tanam yang diuraikan diatas, saat ini telah tersedia media tanam baru yang merupakan media tanam “instant” dan bersifat buatan manusia, yang disebut hydrogel. Hydrogel berbentuk butiran-butiran halus, dimana sewaktu kita akan menggunakannya, maka butiran-butiran tersebut harus diremdam dalam air dengan jumlah tertentu. Setelah direndam ke dalam air, maka butiran hydrogel akan mengembang dan menjadi media tanam siap pakai.

Kelebihan hydrogel adalah, praktis, bersih, steril dan mempunyai variasi warna yang bermacam-macam, sehingga sangat cocok digunakan sebagai media tanam yang bersifat dekoratif. Kekurangannya adalah, miskin unsur hara, dan harganya yang relative lebih mahal serta factor ketersediannya yang masih terbatas. Media tanam hydrogel juga kurang tepat apabila digunakan sebagai media tanam untuk tanaman yang tumbuh besar seperti anthurium.

Demikianlah 12 komponen media tanam yang umum digunakan para pekebun dan hobiis tanaman hias. Sedangkan komposisi dan campuran media tanaman hias akan diuraikan dalam posting selanjutnya dalam blog ini. Semoga membantu.

Dikutip dari http://emirgarden.blogspot.com/2008/07/komponen-media-tanam_31.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s